Dota 2 News, Dota 2 Guide, Dota 2 Heroes, Dota 2 Item, Dota 2 Patch, Dota 2 Event, Dota 2 Tips, Dota 2 Trick, Dota 2 Weapon, Dota Joke

Curhatan Sumail: Takkan Ada Debat

Syed Sumail Hassan, kita kenal sebagai salah satu talenta muda berbakat di DOTA 2. Di umur yang benar-benar masih hijau, ia merupakan pemain yang bisa dibilang paling sukses di antara pemain-pemain seangkatannya.
Namun, hal ini jelas penuh dengan lika-liku, serta tantangan dan rintangan. Seperti yang terjadi pada tim yang ia bela, Evil Geniuses. Performa yang belum stabil, adalah hal yang harus ia lalui saat ini bersama teman-teman satu timnya.
Dan inilah curhatan seorang Sumail yang ia tulis di website dari Monster Energy yang sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia.
Sejujurnya, aku tak berpikir aku dapat memutar waktu ke masa mudaku dan memberikan saran apapun karena aku tak menyesali apapun. Jika kau berikan aku kesempatan untuk memutar waktu dan mengatakan sesuatu, maka takkan ku katakan apapun. Malah akan ku beri tahu diriku agar tetap menjadi diriku sendiri. Jadilah KAMU SENDIRI, bukan orang lain. It will work.
Kamu tahu? Goresan itu, aku mungkin takkan membuat cuitan hal buruk tentang China, karena itu adalah pengalaman belajar — kau membuat kesalahan dan kau belajar. Aku belajar dengan keras dari pengalaman tersebut.

Tumbuh besar bersama teman setimku merupakan faktor terbesar selama didikan profesionalku. Aku belajar menghormati sebuah pertandingan, lebih dari sebelumnya, tentunya. EG selalu menjadi keluarga yang bersatu padu, inilah alasan kenapa aku tetap di sini. Meskipun semua orang berpikir Fear sebagai sosok “ayah” untukku, aku malah lebih melihat ia sebagai seseorang yang dapat mendengarkan SEGALA omonganku — ia “tidak peka”, namun pada hal yang baik. Ialah satu-satunya pemain Dota yang kutemui yang dapat kuceritakan apapun atau membuat segala tipe lawakan dan ia tidak marah. Memiliki orang yang seperti masih 15 tahun benar-benar mengijinkanku untuk mengeksperesikan diriku sendiri dan siapa diriku.
Hal yang sama terjadi padaku sekarang, kau dapat membuat lawakan dan mengatakan apapun di sekitarku dan ku tak peduli. Hal seperti inilah yang membuat beberapa chemistry terbaik (antara dia dan diriku) terlepas dari Dota. Hal ini menjadi elemen penting dari kesuksesan kami sebagai tim.
Sejujurnya, aku berpikir sebagian besar dari kesuksesanku datang dari sikapku terhadap turnamen-turnamen tersebut. Aku akan pergi dan bermain di sebuah turnamen layaknya setiap game Dota yang kumainkan, tak peduli di manapun itu mengambil tempat. Tak pernah memikirkan betapa penting atau tidaknya turnamen tersebut, apa yang dipertaruhkan, atau siapa yang sedang kumainkan. Aku adalah aku, dan tak ada yang dapat mengubahnya. Kita tak merasakan tekanan, dan aku serius bahwa aku tak peduli. Kami adalah kami, dan menjadi periang membuat kami dapat berdamai dengan pemikiran kami sendiri agar bisa menampilkan performa terbaik di level tertinggi tak peduli situasinya seperti apa. Inilah alasan juga mengapa aku tak ingin kembali mengubah apapun itu.
Pemeriksaan realitas sebenarnya adalah sebuah tamparan mengenai wajah, dan ia datang bersama saat kami mulai menderita kekalahan. Dan perasaan seperti depresi kekalahan ini seperti lebih hebat daripada kesenangan saat juara, dan, hal seperti ini memukul kami layaknya setumpuk batu bata. Ku kembangkan rasa benci kekalahan — aku tak dapat terus memikirkan kekalahan — dan ternyata tidak ada yang membuatku menjadi pemain yang lebih kuat daripada hal tersebut.
Bagaimana reaksimu pada pengalaman tersebut juga membuatmu terpisah dari pemain terbaik dengan pemain yang baik saja. Beberapa orang kalah dan menyerah, mengatakan tak dapat melakukannya lagi. Jelas berbeda dengan jika kamu kalah dan mengakui bahwa ada kesalahan, lantas kau memberikan yang terbaik untuk mengatasi masalah ini. Aku selalu merasakan hal ini. Membenci kekalahan mendorongku lebih jauh, dan memaksaku untuk bangkit lagi dan lagi, berangkat ke turnamen selanjutnya dan menghancurkannya. Menjadi juara tak pernah menggetarkan hati, kami hanya benci untuk kalah.

Setelah menjuarai The International pertama kalinya, aku tak mengapresiasi turnamen tersebut dengan semestinya, dan aku memberikan pemikiranku tentang pola pikir di turnamen selanjutnya. Di satu sisi, ketidakpedulian membantuku menjadi yang terbaik di Dota. Di sisi lain, tontonan ini benar-benar sesuatu yang berbeda. Aku tak bisa menjelaskan betapa besarnya The International sekarang. Kekalahan di TI6 membuatku sadar betapa pentingnya hal tersebut dahulu, dan betapa aku menginginkannya. Aku benar-benar menyalahkan diriku sendiri atas kekalahan kami dan membuatku begitu kesal. Aku adalah pemain bintang, dan pemain terbaikmu ini tak boleh bermain buruk.
Artour bergabung setealh TI, dan kami semua berpikir bahwa setelahnya merupakan skuad terbaik di Dota. Ekspektasi kami adalah menang dan dan bahkan saat kami tidak melakukan hal-hal buruk selama tahun tersebut, itu semua jelas di bawah standar kami. Ada sedikit kepuasan dari semua orang — kecuali Artour yang masing menginginkan juara TI. Semuanya berhenti bekerja, tak ada lagi latihan, dan bahkan kami tak mencari pelatih. Semua orang sudah memiliki TI mereka, tapi aku masih ingin lebih. Kekalahan di tahun itu memotivasi diriku untuk mendapatkan banyak kemenangan lebih banyak di sepanjang hidupku.
Jordan (Michael Jordan -red) pernah berkata, “Kamu tahu, ketika kamu membenci kekalahan lebih daripada saat kamu menang, kamu akan meminta maaf. Kekalahan bukanlah kesalahan sampai kamu meminta maaf.” Ini adalah salah satu ciri khasnya, dan hal ini membantunya menjadi yang terhebat. Itulah jenis warisan yang ingin aku tinggalkan nantinya: untuk diingat sebagai yang terhebat. Pertama, aku ingin memenangkan The Internasional lainnya. Setelah itu, aku akan melihat di mana aku berada bersama aku, dan aku akan terus bermain. Tujuan saya adalah memenangkan enam TI seperti Jordan memenangkan enam cincin – maka takkan ada debat.
Itulah satu-satunya alasan saya bermain Dota. Aku tidak pernah inginkan yang lainnya. Aku merasa lapar untuk berada di puncak, lebih unggul dari orang lain, dan menjadi sesuatu yang lebih besar daripada seseorang yang “hanya bermain video game”. Begitu aku berhenti Dota, dan hari-hariku sebagai profesional berakhir, yang aku inginkan hanya akan diingat sebagai yang terhebat. Aku ingin orang tahu bahwa aku berhasil mencapai puncak.
Aku bisa jadi biasa-biasa saja atau begitu bertalenta dalam game, namun jika aku tak dikenang sebagai yang terhebat, apa bedanya?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Curhatan Sumail: Takkan Ada Debat

0 komentar:

Post a Comment

Mari berdiskusi