GESC Indonesia Minor 2018 Day #1, Pertandingan DOTA2 Kelas Dunia



Suatu kesempatan yang sangat jarang, dimana Indonesia bisa menjadi salah satu tuan rumah dari perhelatan ajang pertandingan DOTA 2 kelas dunia. Namun antusiasme dari penggemar DOTA 2 di Indonesia memang bisa dilihat dari kurang lebih 5000 pengunjung yang memenuhi ICE BSD dari pagi hingga selesainya acara GESC Indonesia Minor 2018 di hari pertama ini.

Dimulai dari antrian panjang yang sudah mulai muncul meski waktu masih menunjukkan pukul 7.30. Ditambah dari berbagai keseruan yang dibawakan beberapa caster yang ikut muncul untuk menyapa para pengunjung yang sudah hadir dari berbagai kota dan negara. Tingkat keseruan sebuah acara yang sangat jarang kita bisa dapat temukan di Indonesia.
2 Pertandingan Best of 1 pertama antara Na’vi melawan Digital Chaos dan Rex Regum Qeon melawan The Final Tribe menunjukkan antusiasme penonton selama perhelatan kedua pertandingan tersebut. Pada pertandingan pembuka, Digital Chaos melawan Natus Vincere dapat terlihat dimana venue ICE BSD dibuat berguncang dengan serua “NAVI NAVI NAVI”

Kedua tim tampil ngotot untuk bisa tetap berada didalam pertandingan ini. Drafting kedua tim ini pun dipenuhi oleh hero-hero favorit dari masing-masing tim. Namun pemilihan item-item yang cukup unik dari Lil dengan Dagon yang digunakannya pada hero Elder Titan berhasil memberikan kejutan tersendiri bagi Digital Chaos. Disamping itu, sinerji yang apik antara tiap hero dari Natus Vincere membuat Digital Chaos harus mengakui kekalahan, dan menjadi tim pertama yang gugur dalam ajang GESC Indonesia Minor 2018.
Selanjutnya, saatnya tim perwakilan Indonesia Rex Regum Qeon tampil didepan para penonton di ICE BSD. Atmosfer pertandingan pun berubah, dimana seluruh penonton meng-eluelukan Rex Regum Qeon untuk bisa menang melawan The Final Tribe. Sejak fase drafting, banyak yang sudah menjagokan Rex Regum Qeon karena mereka memiliki draft dengan hero-hero andalan mereka.

Terlihat seberapa Rex Regum Qeon tampil percaya diri dengan berani mengimbangi agresi yang dibawa oleh The Final Tribe keseluruh lane mereka. Namun secara perlahan, Rex Regum Qeon mulai tertinggal akibat pertukaran yang kurang menguntungkan dari setiap team fight yang berlangsung, membuat mereka mulai tertekan dan terlihat sedikit kebingungan.
Seperti bola salju yang menggelinding, yang semakin lama akan semakin besar, keunggulan yang dibawa oleh tim The Final Tribe semakin lama semakin besar dan sudah tidaklah bisa tertahan lagi oleh tim andalan Indonesia tim Rex Regum Qeon. Pada akhirnya, mereka harus menyerah dengan skor 9-27 dalam 35 menit dan harus gugur dari ajang GESC Indonesia Minor 2018.
Kemeriahaan penonton paling bisa dirasakan pada pertemuan antara juara kualifikasi Asia Tenggara, Fnatic melawan tim legendaris yang sedang kembali naik daun, Natus Vincere. Laga sengit penuh drama ini sangat menarik perhatian banyak penggemar yang membuat venue ICE BSD bergemuruh sangat keras mendukung tim favoritnya masing-masing.
Pada game pertama, Na’vi bisa dibilang mendominasi early game dengan permainan apik dari General yang menggunakan Tiny yang berhasil memenangkan fase laning dengan baik. Disusul dengan rotasi support yang baik dari Lil dan LeBron yang berhasil membantu Dendy untuk juga memenangkan fase laning di Mid Lane melawan Abed.
Seiring pertandingan berjalan, secara perlahan Fnatic mulai berhasil mendapatkan keunggulan dari beberapa team fight yang ada dan perlahan-lahan memperlebar jarak keunggulan mereka dari Na’vi. Namun game masih berlangsung dengan sangat alot, dimana Na’vi secara terus menerus berhasil untuk memberikan perlawanan dan terlihat mulai bisa mengejar.

Tapi kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan oleh LeBron dan General yang terculik selagi berusaha untuk membuka ruang kesempatan Navi untuk bisa mendapatkan Mega Creep harus dibayar mahal dengan lemahnya kemampuan Natus Vincere untuk bisa bertahan tanpa sumber stun dan damage dari General, membuat Na’vi harus kalah di game pertama.
Lanjut ke game kedua, dimana yang mungkin akan jadi pertandingan terakhir dari Na’vi di GESC Indonesia Minor ini, yang bisa dibilang memaksa Na’vi tampil berani dann ngotot. Hal ini ditunjukkan juga dengan mereka mengejutkan Fnatic dengan mempick Sniper pada fase last pick untuk digunakan Dendi di Mid melawan Abed yang menggunakan Death Prophet.

Game kedua ini cukup berbeda dengan game sebelumnya,, dimana Na’vi nampak tidak ingin memberikan Fnatic kesempatan untuk mengembangkan permainan dengan berkali-kali menekan Fnatic bahkan sampai dibelakang tower-tower mereka. Permainan agresif dari Dendi, Lil dan LeBron terbayar dengan baik karena Crystallize yang berhasil melakukan farming dengan baik di salah satu hero andalannya yang sedang menjadi meta dalam beberapa patch kebelakang yakni Gyrocopter.
Membuat Na’vi diatas angin karena memiliki sumber damage yang sangat menjanjikan dari Gyrocopter. Tak butuh waktu lama, mereka berhasil mendominasi permainan dan membuat Fnatic gelagapan. Namun perlawanan yang berarti masih ditunjukkan oleh Fnatic sebelum akhirnya harus mengakui keunggulan Navi dalam 47 menit saja.
Game ketigalah yang menjadi puncak antusiasme penonton, dimana kedua tim nampaknya tampil dengan hero-hero favorit mereka dan tampil dengan apik sekali. Sejak awal pertandingan, Fnatic membalas permainan dengan tekanan tinggi dari Natus Vincere dengan berhasil menguasai fase early dengan baik dan melesatkan keunggulan dengan sangat jauh.
Namun Navi-pun tidak tinggal diam saja dengan membalas dengan sangat fatal beberapa kali usaha Fnatic untuk bisa melakukan gank ataupun dalam usaha pushing untuk mendapatkan objektif. Membuat Navi dipaksa bermain dengan bertahan saja dan tidak bisa bergerak dengan cukup leluasa karena seluruh kesempatan mereka nampaknya sudah ditutup Fnatic.

Kesalahan kecil dari Fnatic yang tidak memperhatikan Buyback milik Na’vi dengan baik membuat mereka harus membayarnya dengan kekalahan. Terlalu percaya diri dapat mengakhiri permainan dengan Exorcism dari Death Prophet yang dimainkan Eternal Envy, mereka terus memaksa masuk dan malah terkena serangan balasan dari Na’vi yang langsung mengincar Ancient dari Dire dengan membeli beberapa item baru yang membuat mereka berhasil mengamankan posisi di semifinal untuk melawan Evil Geniuses.
Buat kalian yang tadi hadir di venue pasti merasakan atmosfer yang sangat menyerukan pada momen-monen terakhir saat Na’vi melakukan final push dan berhasil memenangkan seri Best of 3 dengan skor 2-1 meski dalam posisi yang sangat tertinggal dan sama sekali tidak diprediksi bisa menang oleh banyak panelis. Sungguh pengalaman yang luar biasa!
Terakhir kita punya The Final Tribe yang sebelumnya berhasil menggugurkan Rex Regum Qeon melawan Infamous yang bisa dibilang memiliki lebih banyak jam terbang dalam ajang perhelatan DOTA 2 internasional. Meski sudah cukup malam, namun antusias para penonton masih tidak bisa diremehkan walau sudah tidak seramai pertandingan sebelumnya.
Game pertama dari The Final Tribe melawan Infamous bisa dibilang adalah salah satu pertandingan tersengit dari yang sudah disaksikan para pengunjung daritadi pagi. Kedua tim saling melakukan penukaran selama terjadinya teamfight demi teamfight yang terjadi. Namun laning phase yang lebih baik daripada Infamous membuat The Final Tribe memimpin networth.
Carry Morphling yang dimainkan oleh Kathowa dari Infamous berhasil membuat ruang bagi Infamous untuk bisa melakukan beberapa pick-off terhadap tim The Final Tribe. Meski bisa dibilang mereka hanya bisa mengandalkan Morphling mereka, karena Gyrocopter yang dimainkan P4pita gagal untuk bisa mendapatkan farming yang dia sangat butuhkan.
Infamous-pun terlihat kebingungan dan mulai berpencar satu sama lain, membuat The Final Tribe yang punya gaya bermain yang suka melakukan rotasi-rotasi cepat untuk Pick-off berhasil menangkap pemain Infamous satu persatu. Pada akhirnya, agresi terus menerus yang datang dari tim The Final Tribe yang membuat tim Infamous kewalahan untuk bisa mempertahankan base mereka. Pada akhirnya Infamous harus dipaksa menyerah setelah bertanding relatif cepat selama 32 menit, dan merekapun bersiap untuk game kedua.
Lanjut ke game Kedua dari seri Best of 3 ini, dimana Infamous yang tampil dengan tekanan bisa tereliminasi dengan 1 game lagi. Merekapun memilih beberapa hero seperti Terrorblade dan Death Prophet yang memang pada patch 7.09 sampai 7.10 sering mereka gunakan dan memang pada game kedua membawakan dampak positif dalam permainan mereka.
Meski tim The Final Tribe juga mendapatkan hero-hero favorit mereka, seperti Era dengan Tinkernya, Jonassonfam dengan Centaurnya, tapi seperti belajar dari kesalahan mereka sebelumnya, Infamous tampil lebih kompak dan dalam beberapa momen berhasil membalikkan posisi dari upaya ganking yang terus dilakukan tim The Final Tribe dengan kombinasi Lifestealer Centaur mereka.
Namun kesalahan kecil di akhir-akhir pertandingan dari The Final Tribe harus dibayar dengan sangat mahal yang membuatnya harus kehilangan banyak pemain membuat tim Infamous berhasil menguasai keadaan dan bisa memegang kontrol dari permainan. Tak butuh waktu lama, merek berhasil mengunci permainan ditangan mereka dengan skor 28-27 yang sebenarnya bisa memperlihatkan seberapa sengit persaingan yang ada di game ini. Pertandingan-pun lanjut laga penentuan, mengenai siapa yang bisa lanjut kebabak berikutnya.
Seri penentu-pun dimulai, dimana kedua tim pastinya tidak ada yang mau tersingkir terlebih dahulu. Namun kali ini The Final Tribe yang kembali tancap gigi lebih cepat dengan melakukan agresi yang cepat memanfaatkan kemampuan Jonassonfom dengan Sand Kingnya yang bermain di posisi Offlane dan berhasil mengimbangi permainan Outworld Devourer dari Kathowa
Di Midlane-pun Era berhasil mendominasi p4pita yang menggunakan Viper berkat bantuan rotasi dari PABLO yang secara terus menerus berhasil menjebak p4pita dalam kondisi yang buruk dengan Rubick yang merupakan salah satu hero andalannya, meski Scofield dan Miku sudah mencoba membantu. Membuat tim The Final Tribe unggul cukup jauh pada 20 menit pertama dari game penentuan ini.
Kathowa dari Infamous yang mendapatkan Aegis dari Roshan di menit ke 30 salah mengkalkulasi penggunaan Aegisnya dan malah mati tanpa bisa menggunakan Aegisnya membuat tim The Final Tribe bisa menambah keunggulan lebih jauh di menit ke 37 dan seluruh penonton-pun pasti berfikir The Final Tribe sudah tidak mungkin kalah lagi dari Infamous.

Lalu pertandingan ini berlangsung sangat alot dengan keunggulan The Final Tribe, dimana Infamous yang tidak ingin tereliminasi secara terus-menerus memberikan perlawanan dari tekanan yang diberikan The Final Tribe. Namun kembali, kesalah kecil dari The Final Tribe memberikan kesempatan bagi Kathowa untuk berhasil mendominasi game dengan Outworld Devourer andalannya.
Puncaknya pada teamfight terakhir di menit ke 45 yang berhasil dikuasai oleh tim Infamous dan membuat tim The Final Tribe kehilangan 4 pemainnya sekaligus dan langsung mendobrak tower Tier 3 dan langsung mengincar tower tier 4 dan juga Ancient dari mereka. Era-pun mencoba melakukan Buyback tapi apa daya, Infamous berhasil mengunci pertandingan dengan skor 2-1.
Merekapun akan bertemu VGJ.Thunder di babak semifinal nanti!
Dengan berbagai kejutan yang dihadirkan selama acara GESC Indonesia Minor 2018 di ICE BSD kemarin, menunjukkan bahwa sangat rugi untuk kamu semua melewatkan acara yang menghadirkan pertandingan DOTA 2 kelas dunia ini. Jadi buat kamu yang memang bisa atau berkesempatan untuk bisa hadir nanti, ada baiknya kalian pastikan kehadiran kalian ya!
Apalagi saat kalian tahu besok ada pertandingan antara Natus Vincere melawan Evil Geniuses dan juga Infamous melawan VGJ.Thunder yang pastinya siap untuk memberikan permainan serta tontonan terbaik bagi seluruh pengunjung GESC Indonesia Minor 2018 di ICE BSD, mari kita saksikan siapa yang bisa mengangkat trofi juara di Indonesia kali ini.
Tentu saja kalian juga bisa menyaksikan keseruan ini lewat Official Stream yang sudah disediakan oleh penyelenggara GESC Indonesia Minor 2018 ini! Tak lupa, misalnya kalian yang datang melihat Crew Gamebrott yang sedang bertugas disana, boleh banget sapa kita dan ajak ngobrol. Jadi jangan sampe kelewatan untuk menonton GESC Indonesia Minor 2018 ya!
Buat lebih berguna, sebarkan:
close
CLOSE [X]