Pain Gaming Maju ke Semifinal ESL One Birmingham

pain-gaming-semifinal-esl-one-birmingham-featured

Pain Gaming terus mempertahankan performa gemilang mereka di ESL One Birmingham. Setelah memaksa Team Liquid gugur di fase grup, mereka mengalahkan Mineski di perempat final playoff. Ini membuat mereka maju ke babak semifinal dan mengamankan posisi empat besar di turnamen Major Dota 2 ini.
Pada game pertama best of threeearly game yang sangat dominan membuat Pain Gaming mampu bergerak leluasa. Ini memberikan ruang untuk hFn yang menggunakan Slark melakukan farm dan mengambil beberapa solo kill. Memasuki mid dan late game, hFn kemudian menjadi teror yang tidak bisa dihentikan dan membuat Pain Gaming merebut game pertama.
Pain Gaming tidak mengubah strategi mereka di game kedua, yaitu bermain agresif dan proaktif sejak awal permainan. Hal ini diwujudkan dari kombinasi Doom dan Sand King yang sangat sulit ditangani. Seiring waktu, keduanya menjadi hero garis depan dan inisiator yang sangat sulit dibunuh, membuat hFn dan w33 yang menggunakan Troll Warlord dan Death Prophet untuk menghasilkan damage.
Melalui team fight di Roshan, Pain Gaming menyegel game kedua dan maju ke semifinal menghadapi Virtus.Pro.
Sementara di perempat final kedua, Fnatic yang sangat membutuhkan finish yang baik di turnamen ini harus berhadapan dengan OG.
Kedua tim membuka game pertama dengan hero andalan mereka masing-masing. Fnatic menggunakan Ember Spirit dan Morphling, sementara OG menggunakan Lone Druid dan Phoenix. Dua kill di awal permainan dari OG membuat lane Fnatic berantakan. Abed yang menggunakan Ember tidak bisa mendapatkan farm. Sementara N0tail yang menggunakan Lone Druid bebas melakukan farm dan melakukan push. Dengan lane dan ruang farm yang sangat tipis, Fnatic makin lama makin tertinggal sampai akhirnya tidak bisa membendung OG di game pertama.
Fnatic balik membalas di game kedua dengan unggul sepanjang early game. OG sempat melawan dan menjebol tier 3 tower Fnatic di menit 21. Meskipun begitu Fnatic tetap tenang dan perlahan menjadi semakin tanky dan sulit dibunuh. Memasuki late game, bahkan Medusa dari OG tidak cukup untuk membendung tiga core Fnatic.
OG sekali lagi menggunakan hypercarry yaitu Spectre di game ketiga. Fnatic sekali lagi mengandalkan tiga core yang sulit dibunuh, kali ini dengan Death Prophet, Morphling, dan Night Stalker. Permainan berlangsung imbang sepanjang early game. Baru di menit 28, OG melakukan kesalahan dan terpaksa menggunakan dua buyback. Tertinggal, OG menjadi sangat bergantung pada Spectre untuk membuka peluang untuk menang. Sayangnya, dalam kondisi terkurung di basesendiri, bahkan Spectre tidak bisa berbuat banyak. Fnatic berhasil mendapatkan pickoff yang mereka perlukan untuk menjebol base OG dan memenangkan game ketiga.
pain-gaming-semifinal-esl-one-birmingham-bracket

Dengan hasil ini, Fnatic maju ke semifinal dan akan berhadapan dengan OpTic Gaming. Untuk bisa masuk ke delapan besar Pro Circuit, mereka minimal harus bisa finish di posisi runner-up. Artinya mereka harus menang dan maju ke babak final.

Buat lebih berguna, sebarkan:
close
CLOSE [X]